Bangsamanusia

Simulasi Bagi Yang Tak Bertuan

Dua Hari Mendatang yang Segera Datang

Tak ada yang pernah mengira bahwa masa depan datang begitu cepat. Sesuatu yang dipikirkan kemarin, beberapa saat yang lalu, dan kini ia telah berada di depan mata. Seperti itu juga saat seorang dosenku memberikan sebuah agenda padaku. Aku senang, aku berbahagia, tapi juga merasa tak siap, sama sekali tak terduga, bahwa sebelum aku menikmati masa akhir kemahasiswaan ini, panggilan mengisi kuliah di salah satu universitas swasta segera tiba.

Seperti kebanyakan manusia kampung yang gemetaran saat sesuatu yang baru hendak dilakoni, aku ketakutan, imajinasiku tentang memberi kuliah, meski untuk anak-anak semester satu di universitas swasta pula, serasa menggelikan, tidak benar-benar terjadi, dan hanya berani kubayangkan tanpa keberanian untuk benar-benar melakoninya. Baca selebihnya »

12 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Kisah Hidup | , , , , , , , , | 1 Komentar

Menyoal Discourse dalam Studi Post-Semiotik

Derrida, dari segala penolakannya pada strukturalisme, menjadikannya sebagai pemikir post-strukturalis yang paling penting. Dari proyek dekonstruksinya, ia tidak saja menghancurkan sendi-sendi dalam strukturalisme, terutama semiology Saussurean, namun juga meletakkan dasar dari segenap asumsi poststrukturalisme yang masih terus dibincangkan.

Bila Derrida adalah pemikir poststrukturalis yang paling penting, maka Michel Foucoult adalah pemikir poststrukturalis yang paling brilian. Tidak jauh berbeda dari ambisi Derrida dalam menentang segenap asumsi logosentrisme, Foucoult juga mengajukan gugatan terhadap strukturalisme yang memandang bahasa sebagai sistem otonom dengan segenap aturan dan fungsi-fungsinya sendiri, serta menentang segala upaya yang hendak mengungkap makna tersembunyi atas bahasa (Barker, 2004 : 105). Baca selebihnya »

6 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Cultural Studies, Semiotika, Simulasi | , , , , , , , , | 1 Komentar

Melampaui Barthes, Melampaui Ideologi

Strukturalisme, sebagaimana yang ditemukan Derrida, telah menekankan sifat bahasa yang arbitrer dan konvensional pada dirinya. Hal ini, mengandaikan makna tanda tidak memiliki sesuatu yang bersifat inheren pada dirinya. Makna adalah lautan bebas pilihan tafsir dalam arena sosial yang dibekukan, kadangkala diupayakan. Barthes juga melihat kemungkinan ini dalam kerangka semiology Saussure, meski masih terjebak pada istilah tanda ultima dalam denotasi, yang merujuk pada makna real atau makna sebenarnya.

Setelah kemunculan Derrida, bahasa menjadi labil, dan konsekuensi hukum-hukum tanda tidak lagi sekaku yang dibayangkan Saussure. Pemahaman tentang kelabilan makna ini, ikut merasuk dalam gagasan Barthes di kemudian hari, hingga ia merubah tatanan tanda bertingkatnya, sebagai bagian dari operasi ideologis yang termakan hasutan strukturalisme. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Semiotika, Simulasi | , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Dekonstruksi Derrida dan Kegalauan Semiotika

“Bahasa adalah sebuah ironi,” demikian ujar Yasraf (dalam Sobur, 2004 : vi) saat hendak menuturkan pemikiran Umberto Eco, tentang titik temu antara semiotika signifikasi Saussure dan semiotika komunikasi Peirce. Ada semacam ruang ketiga (third space) kata Yasraf, yang terkandung dalam bahasa, dimana sistem tanda dan proses komunikasi bertemu.

Bila demikian pasalnya, maka bahasa harus dipandang sebagai totalitas yang mengantarai aturan-aturan yang telah disediakan oleh sistem bahasa (semiotika signifikasi) dengan bentuk-bentuk tindakan komunikasi (semiotika komunikasi) yang dilakoni manusia. Melalui tanda dan aturan-aturan itulah, maka tindakan komunikasi dapat tercipta dalam sebuah proses komunikasi. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Semiotika | , , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Titik Temu Semiotika Signifikasi & Semiotika Komunikasi; Sebuah Pengantar Pada Semiotika

Ilmu tentang tanda telah dikenali dalam kebudayaan manusia sejak lama. Meski tidak lahir dalam bentuk studi-studi formal yang ketat seperti sekarang, namun sebagai sebentuk pengetahuan pencerapan dan pemaknaan, ia secara langsung terhubung dengan sifat naluriah manusia yang terberi.

Hanya saja, pengenalan manusia pada tanda lebih banyak bersifat natural, ketimbang beragamnya tanda-tanda artifisial yang dapat ditemui dalam masyarakat kita kini. Pengetahuan manusia tentang tanda-tanda yang bersifat natural, membawa manusia untuk dapat membentuk kategori-kategori sosial dan tanda-tanda artifisial yang dapat digunakannya dalam berkomunikasi dengan sesama. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Semiotika, Simulasi | , , , , , , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Ambivalensi Terorisme Global di Ranah Lokal; Musabab dari Radikalisme yang Menohok dalam Long Road To Heaven & Tiga Doa Tiga Cinta

12 Oktober 2002, pukul 23:15, suara dentuman keras terdengar dari Jalan Legian, di Kuta, Bali. Dua buah bom meledak tepat di depan club malam beratap jerami bernama Sari Club, dan menewaskan setidaknya 202 orang sekaligus, 88 diantaranya berasal dari Australia, 38 dari Indonesia, Inggris 23 orang, 9 dari Swedia, dan 7 orang berasal dari Amerika. Seperti itulah setidaknya akhir dari film Long Road To Heaven menghadirkan teks-teks di background hitam dengan audio ketukan piano sesekali dalam tempo pendek yang sungguh muram.

Ada kesan memilukan dari kehadiran teks-teks tulisan itu, tentang betapa biadabnya pelaku pengeboman yang kini kerap disapa sebagai teroris, dan betapa Bali yang damai, yang mistik, yang anggun, harus terganggu oleh ulah para pelaku teror. Tak ada yang menyangka Bali adalah agenda, karena, sebagaimana yang sepertinya hendak dituturkan dalam film ini, Bali hadir sebagai yang artisitik, yang unik, yang masih terpelihara. Meminjam bahasa dari lakon seorang gadis Amerika bernama Hannah, atau dari seorang lelaki Bali yang diwawancarai oleh seorang jurnalis Australia, “Bali is paradise”. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Tiga Doa Tiga Cinta dan Stereotype Tentang Dunia Islam

“Islam di Indonesia tak pernah monolitik.” Demikian ujar Eric Sasono saat menyajikan ulasannya mengenai Tiga Doa Tiga Cinta (www.rumahfilm.org, 1 Januari 2009). Bagi Sasono, 3 Doa tidak saja mampu menghadirkan sebuah keseharian Islam yang sederhana, tetapi juga tidak terlalu repot dalam menyajikan Islam itu, bahkan ketika ia memiliki pilihan untuk mengabarkannya dengan detail yang sungguh-sungguh tentang dunia pesantren.

Seperti kesederhanaan pembuatnya saat menghadirkan Islam ke dalam perbincangan, maka Tiga Doa Tiga Cinta juga, seakan tidak memersoalkan kapasitas pengetahuan penontonnya. Dengan kesederhanaan penyajian, Nurman, yang menjadi sutradara dalam film ini, melihat Islam benar-benar dalam wajahnya yang tak lagi perlu diperkenalkan lebih jauh. Islam hanya harus diketahui dalam kronika, dalam persilangan, dalam kelokalan yang terus hadir, dan selanjutnya, berbicara sendiri tanpa perlu diperkenalkan. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , | Belum Ada Tanggapan

Doa Yang Mengancam Sebagai Gugatan Ontologis

Doa Yang MengancamJangan mengira bahwa Tuhan tak pernah mendengarkan, atau do’a hanya ratapan yang tak pernah dikabulkan. “Kasih sayang Tuhan mengalahkan murka-Nya,” kata Ali Bin Abu Thalib suatu waktu. Do’a menjadi aspek yang selalu saja menjadi jembatan harapan pada datangnya pertolongan ilahi. Masalahnya, apakah semua do’a itu terkabul? Akankah Tuhan memberikan segala keinginan dari para pemohon yang dengan sangat berharap pada sesuatu untuk mewujud dalam isi do’anya?

Sosok seperti Madrim sepertinya tak akan puas dengan jawaban mengiyakan. Dalam perspektif serupa Madrim, agama hanya benar ketika ia memenuhi kebutuhan para penganutnya. Tuhan dikenai kewajiban sebagai raja yang seharusnya mensejahterahkan rakyat, dan rakyat menjadi pengikut yang setia, hanya ketika sang raja dapat memuaskan hati si hamba. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Kun Fayakun Dan Wacana Kemiskinan

Cermin adalah benda yang memantulkan bayang. Ia membiaskan citra tertentu, kembali kepada mata si pelihat tentang dirinya sendiri. Hakekat cermin adalah bayangan tentang diri dalam penampakan fisik pada bidang dua dimensi. Cermin merupakan benda yang dapat menampilkan citra sempurna sesuatu sebagai bayangan yang terbalik.

Dalam Kun Fayakun, cermin menjadi analogon yang menarik untuk melihat lebih jauh tentang tema dan isi cerita di dalamnya. Melalui cermin, film Kun Fayakun tengah menyuguhkan sebuah citra sempurna dari kenyataan tertentu. Seperti cermin, sebagian besar dari kita diajak berkaca, melihat dengan lebih dekat negeri kita sendiri, dan atribut kemiskinan yang kerap kali hadir mengisi perbincangannya. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , | 1 Komentar

Symbolic Signifie Yang Menipu Dalam Mengaku Rasul

Seorang lelaki dengan janggut tebal dan pakaian panjang, berkhotbah di tengah masyarakat desa yang sedang memelihara tanaman padi mereka. Ada symbolic signifie yang ditampakkan pada pakaian yang dikenakan oleh lelaki, sebagai bagian yang inheren sebagai sebuah identitas keislaman. Dengan lantang sang lelaki berkhotbah, menuturkan dirinya sebagai juru selamat, Sang Mahdi sekalian nabi setelah Rasulullah Muhammad SAWW. Dari lakon yang ditampakkan oleh lelaki yang sering disapa sebagai Guru Samir itu, bayangan tentang Islam, hadir mengisi konteks film dalam guratan-guratan yang lebar.

Amat berbeda pandangan saat melihat simbol-simbol yang hadir dari kekasih Riyanti, tato yang mengitari lengan, anting yang menjulur dari kuping, pakaian dengan sobekan besar artisitik di sana-sini, dan lakon di belakang sebuah set drum yang dipajang tepat di depan seorang perempuan seksi. Lakon dari kekasih Riyanti, lebih menampak sebagai musisi dengan ekspektasi pada kebebasan dan sikap keterbukaan yang besar terhadap gagasan-gagasan modern. Ada kontras simbol dari kedua lakon yang hendak dituturkan ke dalam cerita film Mengaku Rasul dari dua sosok itu. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan