Saat Ayah dan Anak Tak Lagi Akur.
Baru sejam tadi aku hendak ke kampus. Menyelesaikan segala ritual menjemukanku dengan kuliah dan terus saja kuliah. Entah, apakah aku pernah mendapatkan sesuatu dari ruang bernama universitas. Mungkin ada. Salah satunya kesadaran yang membawaku untuk segera mengkhotbahkan pada setiap orang di luar kampus untuk tak masuk kesana.
Baru sejam tadi sebelum hendak ke kampus, Koran yang berada di tanganku mengajakku untuk tak segera meninggalkan tempat. Delapan orang mahasiswa FISIPOL di skors oleh Dekannya. Aku hendak terbahak, aku hampir mengumpat, sebentar lagi aku menangis. Delapan orang aktivis mahasiswa, yang kesemuanya berstatus sebagai ketua himpunan di Jurusannya masing-masing, di skors oleh dekan yang harusnya berposisi sebagai ayahnya sendiri, karena perbedaan isi kepala. Baca selebihnya »
Komunikasi Ortodoks; Meneropong Maraknya Pembangunan Mall di Makassar.
Makassar sedang berubah besar-besaran. Pembangunan menjadi titik penting yang sedang digagas sejak beberapa tahun lalu. Kini, ia telah tiba pada tahap kesekian dari proses bernama modernisasi. Berbagai fasilitas dibenahi, mulai dari jalan, pusat perbelanjaan, industri, kawasan hunian, hingga sendi terkecil akan segera terpikirkan dari ruang paling privat individu. Salah satu dari sendi itu ditandai oleh pembangunan berbagai industri dan pusat perbelanjaan bertajuk gaya hidup, dimana Mall adalah satu contohnya.
Di Makassar, pembangunan industri gaya hidup bernama Mall bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan. Seperti di kawasan Panakkukang, kini terdapat tiga Mall yang cukup besar ditambah dengan toko-toko lainnya, yang jaraknya cukup berdekatan. Hal ini tentu saja membawa perubahan kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya, misalnya perubahan dari segi bahasa. Baca selebihnya »