Renungan Tentang Jalan
Dulunya, BTP bukanlah tempat yang istimewa untuk warga Makassar. Alih-alih, mendengar nama BTP saja, orang-orang akan tertawa cukup besar, dan mensinyalir lawan bicaranya pasti berasal dari salah satu empat suku besar yang mendiami BTP. Kalau bukan Bone, Tator, Palopo, dan Lainnya. Namun, menit selalu berganti. Tiap fase dalam sejarah senantiasa bergulir bagai bola di atas bidang datar. Tak ada penghalang baginya untuk terus melaju dan melesat.
Pembangunan kawasan BTP tahun kemarin yang seperti berjalan mengendap akhirnya mengalami titik melesatnya. Bangunan hunian yang berjejer sepanjang jalan seperti jamur yang tumbuh di musim hujan. Di kanan-kiri jalan pertokoan telahpun aktif. Malah, jejalan yang sepi di malam hari, telah pula ramai kendaraan melintas bagai semut-semut membawa gula. Tempat ini telah berubah drastis. Dalam kurun waktu setahun menjadi tempat yang tak lagi sepi dan kumal dalam criteria masyarakat modern. Baca selebihnya »