Catatan Tentang Film Religi di Indonesia (1)
Hal yang begitu rumit dalam merumuskan istilah tentang film religi di Indonesia, terkhusus Film Islam, karena simbolisasi Islam dalam film Idonesia selalu hadir mewarta banyak sekali film dari ragam genre. Sebut saja banyak judul film bertema percintaan remaja, kadangkala mewarta konsep-konsep Islam sebagai jalan keluar.
Ada sejumput makna yang dapat diklaim, atau dipandang sebagai berasal dari tubuh Islam. Ini menjadi fenomena yang khas dalam film Indonesia, karena Islam tampil sebagai perilaku keseharian yang dihayati, pada hampir keseluruhan norma yang mengatur dan merasuk dalam ranah kehidupan individu. Baca selebihnya »
Blogger’s VS Facebooker’s VS Youtuber’s
Selasa cerah. Matahari belum lagi merapat pada senja, saat kakiku menginjak pelataran Sospol. Niatku besar hari itu untuk menyelesaikan blog baruku yang kubuat di wordpress. Ini ketiga kalinya aku membuat dan mengganti halaman blogku. Ada ketidakpuasan rasanya mendapati halaman blog yang tidak sinergi dengan interface yang hadir dalam gagasan.
Sebelumnya, blogku di akun blogspot hampir expired karena tak pernah dikunjungi lagi, baik olehku maupun oleh orang lain. Lalu aku membuat akun baru yang kuharap dapat jadi uji cobaku untuk interface blogku. Aku sudah mengutak-atik ragam tools yang disediakan, namun nihil, karena ketidakmampuan memahami bahasa pemrograman, mulai dari edit HTML-lah, edit CSS-lah, dan bla-bla-bla lainnya yang harus perlahan dipelajari. Baca selebihnya »
Saat ‘yang dilihat’ Menjadi ‘yang Melihat’; (Sebuah Refleksi pada Slumdog Millionaire)

Tubuh yang disengat listrik, kekejaman guru dan polisi India, artefak kebudayaan yang dituding palsu, modernisasi yang latah, suasana kumuh area perkotaan, dan politik nista organisasi anak-anak jalanan India, menjadi sejumput makna yang dapat saja tiba saat “Slumdog Millionaire” karya sutradara Inggris, Danny Boyle, diangkat sebagai tontonan.
Sepertinya tak lagi ada yang arif di sana, ketika kekerasan bersenjata antar gang gentayangan, wanita-wanita dijajakan sejak masih kanak-kanak, agama didaulat sebagai perusak hubungan antar sesama, atau perampok-perampok mobil amatir di siang hari tanpa penutup kepala telah berani berulah. Parahnya, semuanya dikemas dalam satu bahasa tokoh utama dalam, “This is the real India”. Baca selebihnya »
Melihat Meme dalam Film Indonesia (Bagian 1 dari 3 tulisan)
Richard Dawkins, mengetahui benar cara kerja kebudayaan saat merumuskan istilah meme sebagai perbendaharaan kata ilmiah. Bermula dari penolakannya pada pandangan para biolog post-Darwinian. Kemudian ia tiba pada penemuan konsep paling urgen dalam pembahasan kebudayaan di abad kekinian. Dawkins menolak anggapan yang mereduksi budaya sebatas gejala adaptasi biologis organisme terhadap lingkungannya (Mahzar dalam Adhlin, 2006:55).
Baginya, memandang evolusi kebudayaan manusia sebagai praktek antisipasi mahkluk hidup secara fisik, terkesan janggal. Ada kekosongan jawaban dari kenapa manusia melakukan adaptasi terhadap lingkungan dengan cara mengubahnya, tidak dengan hanya mengubah ciri fisiknya sendiri sebagaimana organisme lain yang melakukannya secara fisiologis dalam waktu berjuta-juta tahun. Baca selebihnya »
Tentang Sebuah Perjalanan
Pada mulanya adalah kata !!
Manusia yang Berdarah-darah !!!
Pernahkah Tuhan menciptakan manusia yang tak berdarah? Atau manusia yang tak pernah termakan dunia? Tak ada, tak akan pernah ada, tak mungkin ada. Menjadi manusia berarti menjadi manusia yang berdarah-darah. Hidup dan terambing dalam masalah, dan besar dari kegelisahan. Menjadi manusia berarti belajar untuk memaknai masalah, belajar dari masalah, dan tidak lagi lari (berdarah bersama) masalah.
Menjadi manusia berarti belajar menjadi titik tengah. Titik yang mengantarai hasrat dan akal, kesesatan dan kenabian, kemalaikatan dan kesetanan, nafsu dan rasionalitas. Menjadi manusia berarti belajar untuk terjun bebas ke dalam pergumulan keseharian yang penuh serat, berakar pada kekosongan, berakhir pada kehancuran dan ketidakabadian. Baca selebihnya »
Pendidikan memang tidak pernah hanya bagi mereka yang mampu. Pendidikan adalah upaya seumur hidup, ia digapai, ia dicari, kadang tidak pernah ditemukan di tempat yang jauh, malah ia hadir dalam ruang yang paling dekat dengan keseharian. Ya, seperti itulah tampaknya para laskar pelangi hendak ditempatkan, dan setidaknya seperti itulah cara pandang Bu Mus dan Pak Harfan hendak membawa murid-murid SD Muhammadiyah Belitong dalam Film Laskar Pelangi besutan Riri Reza.
Masa kritis dan mati suri dunia perfilman Indonesia telah lama berakhir. Semangat berkarya insan film tanah air kembali bangkit setelah beberapa saat lemas terkulai. Era baru akhirnya dimulai saat kran-kran demokrasi tak lagi terpasung. Maka, masa setelah 1998, sedikit-banyak adalah pula spirit, serupa udara segar menghembus, yang darinya insan film tanah air dapat mengambil nafas setelah sekian lama tersengal.