Bangsamanusia

Simulasi Bagi Yang Tak Bertuan

Rumah Para Pekerja

Source: www.sorowako.net
Source: www.sorowako.net

Sorowako pagi. Tetes-tetes air masih terdengar nyaring menyentuh atap ruang kost-kostan yang dijejali para pekerja tambang dan rumah sakit. Dingin, meski tak lagi memuncak dibanding subuh tadi. Dua hari aku terbangun amat pagi di tempat ini. Jauh dari kebiasaan, pastinya. Kamar tidur masih tetap hangat, tapi kupaksa untuk bergerak keluar sejak tadi. Malah, sedikit aku mengambil kebiasaan para pekerja tambang yang harus merelakan tubuhnya diguyur air dingin di pagi buta bila ia kena gilir kerja pagi.

Lumayan, tidak sedingin yang kusangka. Air yang menyentuh tubuhku di kamar mandi, rasanya masih jauh lebih hangat ketimbang udara di luar kamar ini saat kudengar tetes air yang menyentuh atap seng ruang ini. Baca selebihnya »

27 Juni 2009 Ditulis oleh benietzsche | Kisah Hidup | , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Pagi di Kampung Halaman (2)

Kampung Halaman, sejauh apapun ia telah berubah drastis dengan segala pembangunannya, selalu saja ia disebut seperti itu. Entah, darimana istilah tentang kampung itu bermula. Sepertinya sejarah hanya menyuguhkan kata-kata tertentu pada kita tanpa perdebatan. Mereka yang berada di rantauan, akan menunggu momen pulang kampung. Mereka yang tengah berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa, selalu menunggu masa liburan agar dapat pulang kampung. Pula, anak-anak kota yang tengah berada di daerah atau kampung pedalaman, selalu menunggu masa untuk pulang kampung.

Pulang kampung bukan hanya bahasa yang dilekatkan untuk mengenang tanah kelahiran, tapi serupa pula sebagai perendahan, ketertinggalan, ketidakpencerahan, lebih jauh ketidakmodernan. Sepertinya, ada perspektif tentang rantauan di negeri ini yang mengandung makna, menuju pencerahan. Mereka yang jauh dari tanah kelahiran, merindukan pulang kampung sebagai asal, sebagai titik mula dari rantauan. Pulag kampung bermakna kembali ke asal, pulang ke titik berangkat, kembali ke awal. Baca selebihnya »

24 Juni 2009 Ditulis oleh benietzsche | Kisah Hidup | , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Pagi di Kampung Halaman (1)

Pagi benar aku terbangun, melihat kedua temanku telah beranjak pergi, pulang ke rumah mereka masing-masing. Aku masih malas beranjak dari ruang ber-AC ini, meski kakiku telah kram dari semalam karena buliran angin berairnya. Sekarang, tepat pukul 07:00. Waktu yang tak lagi laku bagi para pedagang, meski masih cukup pagi bagi anak sekolahan dan pekerja kantoran. Sepagi ini, biasanya nelayan-nelayan di kampungku sudah menjual tiga perempat hasil tangkapannya semalam.

Aku, masih meringkuk di bawah selimut tebal yang tidak cukup panjang untuk menutupi keseluruhan tubuhku dalam posisi lurus. Walau harus kupaksa juga tubuhku keluar darinya, masih saja kugapai guling yang telah bertengger jauh dari posisi tubuhku. Ini pagi yang dingin, tapi tak sedingin AC dalam ruangan ini kuyakin. Entah kenapa, manusia membuat rumah untuk melindunginya dari hawa panas dan dingin di alam terbuka, Baca selebihnya »

22 Juni 2009 Ditulis oleh benietzsche | Kisah Hidup | , , , , | Belum Ada Tanggapan

Kisah Moral dari yang Amoral; Refleksi Atas Film Cintaku Selamanya

“Jutaan orang di dunia menderita penyakit kelamin.

Di antaranya berumur 15-24 tahun.

Mereka tidak menyadari terinfeksi penyakit itu.

Sebarkan fakta ini, Bukan penyakitnya!!”

(Sebait ujaran moral dari awal film Cintaku Selamanya karya Thomas Nawilis)

Pada akhirnya semua orang akan mendapatkan kisahnya masing-masing. Atau semua orang akan mendapati takdirnya sendiri-sendiri. Sebuah jalan logika Tuhan yang tak pernah kasat mata, sebuah aturan tak tertulis di atas kertas namun dapat mempreteli hidup manusia yang detail tercatat. “Semua pasti ada ‘karma’-nya”, tutur perempuan blasteran yang memainkan peran sebagai pacar Askar dalam Film Cintaku Selamanya karya sutradara Thomas Nawilis. Baca selebihnya »

9 Juni 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film, Refleksi Film | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Etnografi Kritis; Sebuah Peta Menuju Penelitian Berbasis Informan (1)

Jauh sebelum Darwin mengabarkan tentang evolusi manusia dari kera, atau penjelajahan Columbus mencari dunia baru, catatan hasil pengamatan suatu kebudayaan nun jauh di sana telah dikenali. Catatan Marcopolo atas perjalanannya ke Cina, uraian Ibn Khaldun atas ragam kebudayaan yang dijumpainya di Timur Tengah, atau catatan harian Jenghis Khan atas suku bangsa dan perang-perang yang dilaluinya di savana Mongol, dijumpai sebagai artefak untuk melihat masa lalu kembali, yang darinya cerita tentang kebudayaan sebuah suku bangsa dapat diketahui.

Catatan lapangan, sebagaimana sebutannya kini, serupa ujaran terdalam atau segaris perspektif dari amatan seseorang yang melihat dan membuat narasi tertulis atas pandangannya. Ia melihat kejadian dalam makna tertentu, menyusun makna itu dalam sistem hubungannya dengan makna-makna yang lain, dan mengabarkan makna dalam resume gagasannya melalui berbaris-baris ujaran tertulis. Kita lalu menyebutnya sebagai sejarah! Baca selebihnya »

7 Juni 2009 Ditulis oleh benietzsche | Ethnografi | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Sosial yang Mengebiri

Kita, mahkluk yang telah mengerti benar bagaimana Tuhan hadir dalam detak jantung, dalam sengal nafas, dalam tiap tindakan, dalam segala bentuk dan penampakan. Tapi, kita bukanlah sosok yang banyak berlatih dalam ujian-ujian berat, kekalahan, kenistaan, terjerambab dalam amukan sosial, fitnah dan segala kebusukan.

Kita adalah manusia yang mengerti benar tentang ke-Tauhid-an dan ke-Esa-an Tuhan, tapi bukan sosok yang dapat melihat Tuhan dalam segala pandangan. Realitas yang banal, mengurung kita dalam kungkungan, dalam pluralitas eksistensi, dalam kekaguman material, dalam pandangan yang ambigu. Baca selebihnya »

7 Juni 2009 Ditulis oleh benietzsche | Kisah Hidup, Refleksi | , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Narcissus, Hasrat, dan Tulisan

“Mengapa engkau menangis?” tanya dewi-dewi itu.  “Aku menangisi Narcissus,” jawab danau.  “Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus,” kata mereka, “sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat.”  “Tapi… indahkah Narcissus?” tanya danau.  “Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?” dewi-dewi bertanya heran. “Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!”  Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata:  “Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri.” (Paulo Coelho dalam Sang Alkemis).

Akhirnya, meski belum selesai sepenuhnya, ruang blogku telah dapat digunakan. Ini narcistik, ini parodi tentang citra diri, ini hasrat dan keinginan yang besar untuk dikenali. Tapi, resiko itu harus kuambil, agar sedikit saja isi kepalaku keluar, dan beban-beban gagasan dapat berkurang. Baca selebihnya »

4 Juni 2009 Ditulis oleh benietzsche | Kisah Hidup, Refleksi | , , , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan