Para Kepiting dan Hasrat Online di Ramadhan Hari Ke-X
Siang menyapa cepat dari balik dedaunan pohon jeruk berdaun kecil di depan pagar rumah kontrakan ini. Dandi baru saja selesai mandi, dan udara pengap kamar menebar teror untuk segera meninggalkannya. Aku baru saja menerima telepon dari Ibuku. Suaranya terlihat lebih keras dari biasanya, meski selalu lebih merdu dari apapun yang pernah kudengar. Jadwal kirimanku telah tiba, meski aku tak benar butuh uang dalam waktu dekat ini, tapi memikirkannya tak datang sampai beberapa hari lagi, membuatku kepikiran juga.
Kali ini kampus akan jadi tujuan utama saat aku meninggalkan rumah kontrakan ini, meninggalkan kamar pengapnya, dan meninggalkan ia dalam keadaaan lebih kotor lagi ketimbang saat kami tak berada di dalamnya. Baca selebihnya »
Benar-benar 31 Agustus di Ramadhan Hari Ke-X
Akhir bulan sudah menyapa. 31 Agustus, di subuh saat sakit di pinggangku benar-benar terasa. Sesaat ketika aku terbangun tadi, kurasakan tarikan nafas seorang lelaki renta mulai membayang, dan sekelumit persoalan yang belum benar-benar selesai, menggelayut menyapa pikiranku. Aku harus menyelesaikannya dalam waktu secepat mungkin.
Dandi, Wahyu, dan Mamat telah membenamkan diri kembali. Di kasur tipis yang mulai kotor karena bekas kaki itu, waktu berlalu seperti bayangan, dan segala ketakutan satu-persatu hadir menyapa tentang masa datang. Kamar tidurku telah lama tak benar-benar kutemui. Kamar ini yang menjadikan sedikit langkahku menaik, satu tingkat, menuju calon sarjana, meski pergulatan dengan mata kuliah masih harus kulewati, bahkan dalam semester yang mulai tak terhitung ini. Baca selebihnya »
Minggu yang Menggairahkan di Ramadhan Hari Ke-IX
Masih pagi benar, udara segar bersenandung di atas daun pohon jeruk purut depan rumah, dan hangat matahari belum menyentuh sedikitpun pakaian yang baru selesai kucuci. Suara titik-titik air, jatuh menyentuh pasir kasar selokan kering dari beberapa celana pendekku, dan teriakan-teriakan penjual sayur yang berkeliling dengan sepeda, terus meraba tidur para ibu rumah tangga kompleksku. Aku merapat di atas kursi plastik tua di teras rumahku, mencoba berehat dari aktifitas mencuci yang baru kulakoni lagi sejak tiga mungkin kemarin.
Kerongkonganku rasanya telah tak lagi punya tanggungan ludah, dan sehabis menjemur pakaian-pakaian itu, sepertinya aku benar-benar dehidrasi. Tapi, ini dehidrasi yang menyenangkan buatku. Untuk pertama kalinya sejak hari pertama berpuasa, aku merasakan capai yang sungguhan, beban kelelahan yang menertawai, dan aku malah merasa senang karenanya. Akhirnya aku berpuasa, kupikir. Baca selebihnya »
Kedatangan Pemilik Rumah di Ramadhan Hari ke-VIII
Satu asumsi kenapa kita harus perduli pada dunia, karena satu atau lebih kejadian, dapat jadi berlangsung melibatkan dirimu. Aku mengalaminya hari ini, saat lelaki pemilik rumah kontrakanku di Paropo, datang seperti wanita yang telah diperkosa hendak meminta pertanggungjawaban. Dimintanya berbagai keterangan mengenai banyak hal, mulai pembayaran listrik, pembayaran air, keadaan rumah, kondisi halaman yang jauh dari rapi, selokan yang dipenuhi sampah, dan, hal yang paling membuatku tak bisa berkata apa-apa, saat ia menanyakan tentang penggerebekan yang terjadi di samping rumahku.
Aku benar seperti dihajar godam yang membuat diriku hanya diam memandangi dua temanku yang sedang menghisap rokoknya sembari memasang senyum. Setelahnya aku hanya menimpalinya seolah tak tahu, membiarkan ia terus menembakiku dengan kata-kata yang lebih kupandang khotbah dan ceramah agama. Aku tak lagi berkutik, hanya kupandangi garis-garis kemejanya yang tipis, dan jemari tangannya yang mulai menubruk-nubruk lantai perlahan. Baca selebihnya »
Tontonan di Ramadhan Hari Ke-VII
Tiga pula di daerah Sumatera Barat, sedang diperdagangkan di dunia maya.
Aku berkata, kenapa tidak serahkan saja pulau itu secara sukarela.
Tarian budaya Indonesia sedang diklaim oleh Malaysia.
Aku berkata, serahkan juga yang lain sebelum rusak di tangan masyarakat Indonesia. Baca selebihnya »
Ingatan Tentang Teman di Ramadhan Hari Ke-VI
Kuterima telepon subuh ini, seorang teman dari masa yang telah hampir kukenang, meski durasinya hanya beberapa tahun kemarin. Pertanyaan mereka sama saja dengan yang seringkali kudengar dari banyak kenalan yang kutemui di beberapa tempat. “Kapan dikau selesai?” Pertanyaan retoris bagiku, meski tak benar-benar retoris bagi sebagian orang, mungkin. Tapi, ada yang berbeda saat ia dituturkan dari orang yang berada jauh dariku itu.
Buatku pengalaman yang membawa pikiran mereka untuk kembali, meski dengan satu pertanyaan retoris semisal yang diutarakannya, adalah sebuah ingatan yang coba kembali, masih terkenang, masih terjaga. Dan menyenangkannya, ia hendak melibatkanku. Tak dapat kupungkiri, bahwa semalas apapun aku hendak mendengar ujaran itu, aku benar-benar tak sepenuhnya ingin keluar dari sana. Baca selebihnya »
Mache Kampus dan Junior di Ramadhan Hari Ke-V
Apa yang paling menyenangkan bagi seorang senior? Ada yang berkata, saat mereka masih benar-benar dipandang sebagai senior. Yang lain berkata, saat mereka benar-benar bertindak sebagai seorang senior. Aku sendiri menganggap, ketika junior masih tetap ada, selama itu pula senior bisa bertahan. Pikiran itu segera datang padaku sore tadi, saat puluhan mahasiswa baru datang hendak meminta tanda tangan padaku, kebiasaan dari masa lalu, yang harus dilakoni mahasiswa baru sebagai junior, untuk mengenali senior-senior mereka.
Tapi, siapa yang memilih mereka menjadi junior, hingga aku dapat bertindak sebagai senior. Akan seniorkah aku saat mereka tak masuk ke dalam ruangku? Mungkin tidak. Menjadi senior berarti menjadi ‘yang seolah lebih tahu saat dibandingkan dengan sekedar yang awam’. Aku dipandang senior, karena junior masuk ke dalam dunia tempat aku telah berada lama di sana. Kini, pandangan itu seringkali merujuk sekedar pada usia, meski seringkali maknanya banyak dibubuhi dengan atribut tertentu yang terkesan ‘wah’. Baca selebihnya »
Merengkuh Makna dari Para Pencari Tuhan III di Ramadhan Hari III
Aku begitu tersentuh subuh ini. Sebuah kalimat yang diujarkan oleh seorang lakon dalam sinetron PPT III. Sebuah keluarga miskin yang merindukan haji bagi dirinya, meski untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang terdiri dari sepasang suami-istri, dan enam orang anak, terasa tak akan pernah cukup dari penghasilannya yang amat tak pas-pasan. Ada perasaan sungkan pada sang ayah untuk melangkah masuk ke pekarangan rumah, saat dilihatnya enam orang anaknya tengah mencuci piring-piring yang akan dipergunakan untuk makan, sedangkan nasi bungkus di tangannya pasti tak akan cukup, bahkan untuk seorang saja di antara mereka.
Dalam kesungkanan itu ia melangkah, membiarkan rezeki itu terlihat, membawa senyuman yang hangat dari seisi rumah pada bungkusan yang tengah berada di tangan sang ayah. Meski dengan rasa getir ia melangkah, sebungkus nasi itu dibagi juga, membiarkan anak-anaknya menikmati hasil kerja sang ayah, walau ia dan sang istri harus kelaparan malam nanti. Baca selebihnya »