Kedatangan Pemilik Rumah di Ramadhan Hari ke-VIII
Satu asumsi kenapa kita harus perduli pada dunia, karena satu atau lebih kejadian, dapat jadi berlangsung melibatkan dirimu. Aku mengalaminya hari ini, saat lelaki pemilik rumah kontrakanku di Paropo, datang seperti wanita yang telah diperkosa hendak meminta pertanggungjawaban. Dimintanya berbagai keterangan mengenai banyak hal, mulai pembayaran listrik, pembayaran air, keadaan rumah, kondisi halaman yang jauh dari rapi, selokan yang dipenuhi sampah, dan, hal yang paling membuatku tak bisa berkata apa-apa, saat ia menanyakan tentang penggerebekan yang terjadi di samping rumahku.
Aku benar seperti dihajar godam yang membuat diriku hanya diam memandangi dua temanku yang sedang menghisap rokoknya sembari memasang senyum. Setelahnya aku hanya menimpalinya seolah tak tahu, membiarkan ia terus menembakiku dengan kata-kata yang lebih kupandang khotbah dan ceramah agama. Aku tak lagi berkutik, hanya kupandangi garis-garis kemejanya yang tipis, dan jemari tangannya yang mulai menubruk-nubruk lantai perlahan.
Saat mulutnya mulai menutup, baru sedikit kutimpali kalimatnya dengan ceramah lainnya. Kukatakan padanya, bahwa telah lama sudah kuperingatkan tetanggaku itu, agar ia tak sering-sering memasukkan lelaki ke dalam kamarnya, agar kawan-kawan lelakinya tak lagi datang di atas jam 12 malam, agar kawan-kawan bermotornya tak menancap gas dengan amat kencang bila sudah larut malam, tapi tak ada yang perduli dengan kata-kataku itu.
Kulihat sesaat wajah lelaki berwajah bersih itu mengangguk, dan kuanggap itu sebagai kesan yang baik dari perbincanganku dengannya. Tapi, semengerti apapun ia dengan kata-kataku, rasanya tak lagi mudah untuk mengembalikan sebuah kesan. Menurutku masyarakat memang hanya terbangun dari kesan-kesan itu, dan saat satu atau lebih kesan diterima, seperti itulah citra segala hal akan mulai membentuk dan dibentuk. Seingatku, tak sekalipun aku menaruh perduli pada apa yang sedang dilakukan oleh dengan orang yang berada di samping rumahku itu, terlebih untuk segala ruang moral yang dilakoninya.
Pada banyak kejadian yang kuamati, tak ada perilaku moralnya yang pernah dapat benar-benar kuterima, tapi membaca sedikit gagasan Derrida dan aliran konstruktivisme dalam filsafat, memberiku ruang untuk menjadi yang mengacuhkan, yang masih menganggap, bahwa ada kemungkinan berbeda dari perilaku siapapun, bahkan ketika padangan itu sungguh buruk dalam perspektif kita. Ada sekian banyak cara pandang di luar sana, dan dari sekian banyak cara pandang itu, segala hal yang benar-benar buruk bagiku, bisa jadi tak benar-benar buruk bagi yang lain.
Walhasil, tetanggaku terus saja memanggil teman-temannya berkumpul, tidur dalam satu kamar dengan bercampur antara lelaki dan perempuan, memutar sekeras-kerasnya musik saat tetangga lainnya sedang terlelap, tertawa seperti tak berbeban, bahkan ketika malam benar-benar larut. Seingatku, hanya sekali aku pernah menasehatinya, itupun hanya melalui adikku, setelah ketua RTku mencegatku di tengah jalan saat aku hendak membeli kopi di kios samping rumahnya. Selebihnya, aku hanya menatap mereka dengan sinis, walau lebih mirip pandangan orang yang cemburu, dan segera masuk ke rumahku sendiri, menutup pintunya, dan tak lagi terbuka hingga pagi menjelang.
Malam saat ketua RT dan kawan-kawannya datang, aku sudah melihat sesosok lelaki berada di dalam kamar tetanggaku itu. Tapi, tak kupusingkan apa yang hendak dilakukannya. Segera kucegat pikiranku untuk mencari tahu, segera masuk ke dalam rumahku, dan mengeluarkan laptopku. Tak berselang lama dari waktu itulah, ketua RT dan koleganya kudengar mendobrak pintu tetanggaku. Setelahnya hanya kudengar teriakan, dan perbincangan sengit terjadi di luar rumahku.
Mendengarnya tentu pula mengganggu konsetrasi membacaku, tapi sikap tak mau ambil pusing masih bersemayam kuat di benakku. Segera kunaikkan volume dari panel di laptopku, membuat kegaduhan di luar sana, hanya seperti musik pengiring lainnya dari irama Metallica yang kuputar. Setelahnya kembali hening, dan bayangan tentang apa yang terjadi di luar sana, segera larut dalam malam.
Tapi, memang benar teori chaos itu, bahwa sedikit apapun yang terjadi pada semesta, bisa jadi berdampak besar bagi dunia. Segera kuingat adegan saat Peter Parker membiarkan lolos seorang perampok yang mengambil uang dari mandor tinjunya. Adegan dalam Spiderman itu segera kubayangkan seperti nasibku. Telah kubiarkan suatu tindakan buruk terjadi, padahal ia berada sangat dekat denganku, yang seharusnya tak terjadi saat aku menghentikannya.
Sebagaimana pandanganku, Peter Parker juga menganggap itu bukan urusannya, dan kejadian itu justru membunuh pamannya, orang yang telah dipandang olehnya sebagai orang tua kandung ketimbang sekedar paman. Ia terbunuh, di tangan lelaki yang seharusnya dapat dihentikannya ketika itu untuk berbuat kejahatan. Memang tak ada yang dapat dianggap penjahat dalam ceritaku. Tapi, seperti Parker yang menyesal, aku hanya dapat bersenandung seperti lelaki gila yang tidak punya harapan.
Dua hari setelah kejadian penggerebekan itu, seorang kolega ketua RTku mencegatku saat ia hendak ke masjid. Rasa-rasanya makian itu tak lagi akan pernah hilang dari hidupku, menginspirasi sekalian menghardik, menggugah sekaligus menghina, membangun tapi membunuh, dan segera mendepakku sendiri di persimpangan jalan itu, saat ia berlalu dengan kemarahannya menuju masjid Paropo. Aku lesu di siang cerah itu. Keinginanku untuk membeli kopi segera buyar, dan kembali ke rumah dengan getir. “Kenapa tak kupukuli lebih dulu lelaki-lelaki yang pernah berkunjung ke kamar tetanggaku itu?” batinku.
Wah kisah hidup yang sungguh tragis, membacanya membuatku tak dapat menahan air mata juga tawa. aku tertawa sampai air mataku berjatuhan, begitulah. oia tak dapat kubayangkan bila seandainya yang datang memang seorang gadis laiknya habis diperkosa (maaf anda terlalu kejam dengan pengandaian ini) dan bukan anda pelakunya.
Hidup tak berhenti sampai disini, seperti Peter Parker yang kemudian menjadi semakin kuat, setelah kematian kakeknya. Mungkin DiGerebek adalah cara terbaik untuk menasehati tetangga anda, setelah teguran halus dari saudara Benietzsche tak dihiraukan. Janganlah terlalu menyalahkan diri, setidaknya saudara menjadi rembulan disaat malam gelap gulita. Apa jadinya jika saudara mengikuti pola hidup tetangga anda, bergelimang ‘kebebasan’, tak ada batasan antara perempuan dan lelaki. Bersyukurlah saudara dengan keputusan ntuk menyendiri, jauh dari dunia perempuan, ini menjaga saudara dari hal-hal yang diinginkan (yang ini becanda boks).