Penyakit dari Ber-internet
Siang yang cerah untuk segera bangun. Badanku masih terasa sakit, bahkan beberapa hari sebelum aku memutuskan untuk melihat kampung halamanku lagi. Akhirnya online memberikan penyakit fisik padaku, bukan lagi sekedar sakit yang menggangu jiwa da kesadaran. Keseringan berinternet di kampus, bahkan hingga larut malam, membuatku harus duduk berjam-jam dengan hanya berteman dengan monitor laptop dan desingan nyamuk sebelum benar-benar menyuntik kulit yang serasa terbuka.
Bahkan tidak hanya di hotspot kampus aku melakoni itu. Beberapa warung kopi di Makassar telah kutempati, berlagak seperti orang penting yang tak lagi bisa beroleh penghasilan bila tak berinteret, meski lebih banyak aku hanya memandangi informasi yang setelah kupikir kembali esoknya, rasanya tak benar-benar kuperlukan. Sekarang keseringan itu menuai bencananya. Baca selebihnya »
Dendam Shigeru yang Menumbuhkan (Refleksi Atas Kisah Klan Otori 3)

http://www.indobookshop.com
Adakah manusia seperti Shigeru saat ini. Lelaki perkasa sekaligus lembut dari klan otori, lelaki ksatria sekaligus petani dari keluarga kerajaan, santun sekaligus penuh strategi, kejam sekalian tabah, patuh namun tak bertuan, berapi-api tetapi penuh perhitungan. Dan, di ujung kematiannya, ia masih mendambakan kematian lain bagi sang penindas Iida.
Seperti ksatria lain yang hak-haknya terampas, maka tak ada keinginan yang lebih besar selain mengembalikan segala yang terampas. Adiknya mati dengan terhunus pedang dalam api yang terus berkobar di bawah tuduhan palsu, Ayahnya mangkat saat perang di Yaeghara tanpa kemenangan, sementara Shigeru, Baca selebihnya »
Sudut Pandang Tentang Pengkhianatan (Refleksi Atas Kisah Klan Otori 2)

http://www.khatulistiwa.net
Kenji, lelaki tua dari kaum Tribe, sekali waktu pernah berjanji pada Shigeru. Tak sekalipun ia akan mengkhianati Shigeru, dan selamanya ia menobatkan diri sebagai sahabat. Tapi Kenji telah membohongi Shigeru, begitu rupa, membuat Shigeru dijadikan tumbal atas kekejaman Iida. Kenji berkhianat, melarikan Takeso, dan membiarkan Shigeru menjadi mangsa di kandang Iida, sendiri, tanpa pertolongan, tanpa permintaan ampun. Kenji berlari ke sukunya, begitupula Takeso yang tak berdaya dalam permainan nasib.
Seharusnya, bersama Kenji dan Shigeru, ia akan menghabisi Iida pada malam itu, meski nasib berkata lain, dan justru Shigeru yang menjadi bulan-bulanan Iida di tembok penghukuman. Baca selebihnya »
Pagi Lagi di Kampung Halaman
Dahulu, bangun pagi serasa hal biasa bagi bangsa ini. Bahkan, sebelum pagi sekalipun, kadang beberapa orang dari masyaarakat kita di Indonesia ada yang melakoni. Pagi adalah durasi waktu yang penting, karena pada waktu itulah semua masalah dimulai dan menjadi titik berangkat segala penyelesaian. Ritme alam raya pula berjalan dalam durasi yang sama dengan pemahaman manusia masa lalu tentang pagi hari.
Pagi diibaratkan sebagai kemenangan dewa matahari setelah pertarungannya dengan dewa malam, dan saat kemenangan diperoleh oleh dewa matahari, maka kecerahan, keceriaan, kesegaran, atau juga kebahagiaan, datang menghampiri alam raya. Pagi, adalah waktu awal saat kemenangan dewa matahari itu dirayakan. Baca selebihnya »
Calon Musisi Baru Malili
Sehari lagi di negeri kabupaten ini berlalu. Masa yang tidak akan diceritakan pada generasi setelahku, karena ia tidak mengandung semangat apapun. Hanya bias hari-hari, berlalu, dan terus berlalu. Masa-masa tanpa kenangan, masa-masa tanpa keinginan, masa-masa tanpa visi dan tujuan. Semagatku rasanya telah terkubur, tertutupi oleh banyak hal yang dibalut nafsu dan berahi.
Di meja kantor yang harusnya telah berurusan dengan pekerjaan kontraktor, sepi. Thonio, kakakku, memanfatkannya hanya untuk mengedit ego-ego bermusiknya yang setengah-setengah. Kali ini ruang itu terlihat lebih ramai. Seorang kawan kakakku, Ully namanya, juga tengah berada di ruang itu, bercerita, sembari mengisi kegiatan sehari-harinya yang kuyakin juga sepertiku, tanpa visi. Baca selebihnya »
Kampung Halaman Lagi
Melelahkan. Perjalanan semalam dari Makassar masih menyisakan kantuk berat di pelupuk mataku. Kini aku berada di rumah salah satu teman kakakku. Ken namanya, seorang koki kapal pesiar Eropa yang banting setir menjadi pembuat roti di kabupaten ini, Luwu Timur. Melelahkan, bahkan ketika badanku telah kurebahkan hampir sepenuh malam tadi. Tapi, kecepatan mobil sepertinya membuat tubuhku seperti habis dipukuli para mucikari yang tidak dibayar wanita-wanita jajanannya.
Aku lelah, telungkup di antara sudut kursi depan rumah Ken yang kini telah usai mandi dan bersiap masuk ke kantor kembali. Selain menjadi penjual roti, ia masih sempat juga melakoni peran keduanya sebagai PNS di SubDinas Pariwisata di dinas Depdikpora Luwu Timur. Memalukan. Kali ini aku sama sekali tak punya motif yang bagus untuk kuberitahu ke orang tuaku mengenai kepulanganku. Baca selebihnya »
Kisah Perang di Ujung Senja
Tuhan menciptakan dunia dalam enam hari,
dan manusia menghancurkannya,
kurang dari setengah hitungan itu.
Sosial yang Mengebiri
Kita, mahkluk yang telah mengerti benar bagaimana Tuhan hadir dalam detak jantung, dalam sengal nafas, dalam tiap tindakan, dalam segala bentuk dan penampakan. Tapi, kita bukanlah sosok yang banyak berlatih dalam ujian-ujian berat, kekalahan, kenistaan, terjerambab dalam amukan sosial, fitnah dan segala kebusukan.
Kita adalah manusia yang mengerti benar tentang ke-Tauhid-an dan ke-Esa-an Tuhan, tapi bukan sosok yang dapat melihat Tuhan dalam segala pandangan. Realitas yang banal, mengurung kita dalam kungkungan, dalam pluralitas eksistensi, dalam kekaguman material, dalam pandangan yang ambigu. Baca selebihnya »
Narcissus, Hasrat, dan Tulisan
“Mengapa engkau menangis?” tanya dewi-dewi itu. “Aku menangisi Narcissus,” jawab danau. “Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus,” kata mereka, “sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat.” “Tapi… indahkah Narcissus?” tanya danau. “Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?” dewi-dewi bertanya heran. “Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!” Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata: “Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri.” (Paulo Coelho dalam Sang Alkemis).
Akhirnya, meski belum selesai sepenuhnya, ruang blogku telah dapat digunakan. Ini narcistik, ini parodi tentang citra diri, ini hasrat dan keinginan yang besar untuk dikenali. Tapi, resiko itu harus kuambil, agar sedikit saja isi kepalaku keluar, dan beban-beban gagasan dapat berkurang. Baca selebihnya »