Bangsamanusia

Simulasi Bagi Yang Tak Bertuan

Doa Yang Mengancam Sebagai Gugatan Ontologis

Doa Yang MengancamJangan mengira bahwa Tuhan tak pernah mendengarkan, atau do’a hanya ratapan yang tak pernah dikabulkan. “Kasih sayang Tuhan mengalahkan murka-Nya,” kata Ali Bin Abu Thalib suatu waktu. Do’a menjadi aspek yang selalu saja menjadi jembatan harapan pada datangnya pertolongan ilahi. Masalahnya, apakah semua do’a itu terkabul? Akankah Tuhan memberikan segala keinginan dari para pemohon yang dengan sangat berharap pada sesuatu untuk mewujud dalam isi do’anya?

Sosok seperti Madrim sepertinya tak akan puas dengan jawaban mengiyakan. Dalam perspektif serupa Madrim, agama hanya benar ketika ia memenuhi kebutuhan para penganutnya. Tuhan dikenai kewajiban sebagai raja yang seharusnya mensejahterahkan rakyat, dan rakyat menjadi pengikut yang setia, hanya ketika sang raja dapat memuaskan hati si hamba. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Kun Fayakun Dan Wacana Kemiskinan

Cermin adalah benda yang memantulkan bayang. Ia membiaskan citra tertentu, kembali kepada mata si pelihat tentang dirinya sendiri. Hakekat cermin adalah bayangan tentang diri dalam penampakan fisik pada bidang dua dimensi. Cermin merupakan benda yang dapat menampilkan citra sempurna sesuatu sebagai bayangan yang terbalik.

Dalam Kun Fayakun, cermin menjadi analogon yang menarik untuk melihat lebih jauh tentang tema dan isi cerita di dalamnya. Melalui cermin, film Kun Fayakun tengah menyuguhkan sebuah citra sempurna dari kenyataan tertentu. Seperti cermin, sebagian besar dari kita diajak berkaca, melihat dengan lebih dekat negeri kita sendiri, dan atribut kemiskinan yang kerap kali hadir mengisi perbincangannya. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , | 1 Komentar

Symbolic Signifie Yang Menipu Dalam Mengaku Rasul

Seorang lelaki dengan janggut tebal dan pakaian panjang, berkhotbah di tengah masyarakat desa yang sedang memelihara tanaman padi mereka. Ada symbolic signifie yang ditampakkan pada pakaian yang dikenakan oleh lelaki, sebagai bagian yang inheren sebagai sebuah identitas keislaman. Dengan lantang sang lelaki berkhotbah, menuturkan dirinya sebagai juru selamat, Sang Mahdi sekalian nabi setelah Rasulullah Muhammad SAWW. Dari lakon yang ditampakkan oleh lelaki yang sering disapa sebagai Guru Samir itu, bayangan tentang Islam, hadir mengisi konteks film dalam guratan-guratan yang lebar.

Amat berbeda pandangan saat melihat simbol-simbol yang hadir dari kekasih Riyanti, tato yang mengitari lengan, anting yang menjulur dari kuping, pakaian dengan sobekan besar artisitik di sana-sini, dan lakon di belakang sebuah set drum yang dipajang tepat di depan seorang perempuan seksi. Lakon dari kekasih Riyanti, lebih menampak sebagai musisi dengan ekspektasi pada kebebasan dan sikap keterbukaan yang besar terhadap gagasan-gagasan modern. Ada kontras simbol dari kedua lakon yang hendak dituturkan ke dalam cerita film Mengaku Rasul dari dua sosok itu. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Realitas Poligami Dalam Ayat-Ayat Cinta

Fachri, menjadi sentrum, menjadi realitas imajiner, dengan kemiripan karakter saat lakon-lakon dalam film Rhoma Irama dahulu diingat kembali. Sosok sempurna tanpa cela, yang menghadirkan keislaman sebagai perilaku keseharian yang dilakoni dengan amat takzim. Dan, di sanalah bayangan tentang perilaku keislaman menampak, hendak menghadirkan sebuah idealisasi tentang pribadi muslim yang taat, namun tetap terbuka pada perubahan, dan tidak memandang gagasan lainnya, di luar dunia Islam, sebagai salah, menyimpang dan harus dihancurkan.

Melalui Fachri-lah justru, yang menjadikan Ayat-ayat Cinta menjadi ungkapan simbolik yang menuturkan banyak isu dalam dunia Islam tampak ditonjolkan dan menjadi persoalan. Ta’arruf, jilbab, hijab, pluralisme, feminism, kebencian pada dunia Barat, amatan pada non-muslim, pernikahan, dan juga poligami, hadir mengisi cerita, dalam cara yang berbeda dibandingkan yang dapat diamati pada film lain. Baca selebihnya »

5 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Masalah Sebagai Cara Menyelami Eksistensi di Untuk Rena

Tsunami memorakporandakan Aceh, memisahkan keluarga, menghancurkan rumah-rumah. Tragedy memilukan yang membuat Indonesia berduka, begitu mendalam, hingga bayangan tentang Aceh, negeri serambi Makkah itu, hampir saja pupus. Tetapi, bagaimanapun bencana itu datang dengan tiba-tiba, hanya kesabaran jua yang membuat segalanya lebih baik.

Sosok Pak Sutan, yang memainkan peran sebagai orang-orang Aceh lama yang gemar bernyanyi, menunjukkan kesabaran itu, dengan begitu besar, begitu memesona. Meski ia harus hengkang dari kampong halaman ketika bencana Tsunami itu datang, dan terpisah dari sang Ayah yang telah memberi begitu banyak kesan berharga dalam hidupnya, Pak Sutan, telah belajar hidup dari kegembiraan-kegembiraan di atas berbagai masalah hidupnya. Baca selebihnya »

3 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Melihat Islam Indonesia dalam Rindu Kami Padamu

Dapatkah melihat kemungkinan terpisah dari ciri-ciri budaya manusia Indonesia dan ritus-ritus Islam? Atau, mampukah mengenali budaya Indonesia dengan tidak menyangkutpautkannya dengan kebudayaan Islam di dalamnya? Melalui karyanya bertajuk Rindu Kami Padamu, Garin hendak memberikan gambaran tentang Islam yang khas Indonesia.

Ia tidak saja memberi penekanan, bahwa tidak memungkinkannya menyinggung kompleksitas kebudayaan manusia Indonesia, yang terpisah dari ritus-ritus keislaman, tapi juga memberi label bagi Islam Indonesia, yang selalu hadir sebagai gagasan yang diselami dalam keseharian masyarakat bersama kompleks tradisi lainnya. Baca selebihnya »

3 Desember 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Kiamat Sudah Dekat dan Gaya Hidup Manusia Modern.

Sampul Film Kiamat Sudah Dekat“Apa jadinya bila kiamat datang esok hari?” Demikian pertanyaan yang pula seolah menjadi gugatan dalam film karya sutradara senior Deddy Mizwar. Kiamat menjadi penanda yang didengungkannya, tidak saja untuk meletakkan penekanan tertentu di dalamnya, juga mengambil sebuah penanda tingkat kedua dalam masyarakat Islam yang begitu akrab.

Kiamat menjadi sebuah term yang diterima sebagai akhir, ujung dari kehidupan duniawi, sebuah masa penghabisan bagi beredarnya segala sesuatu yang bersifat material. Kiamat Sudah Dekat, menjadi ujaran yang menohok, tidak sekedar karena ia terdengar menakutkan, pula membiaskan keremangan gagasan tentang manusia-manusia kini yang mulai abai pada yang spiritual. Baca selebihnya »

29 November 2009 Ditulis oleh benietzsche | Film | , , , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Roxx Bergema Lagi

18 Oktober 2009 Ditulis oleh benietzsche | Music | , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Kembali dari Renungan

Aku bercanda.
Sebentar lagi aku akan kembali,
tapi tidak untuk patuh.
Aku hanya bercanda.

17 Oktober 2009 Ditulis oleh benietzsche | Sastra | | Belum Ada Tanggapan

September

September datang begitu cepat. Kukira bulan ini adalah bulan kemelut, saat berbagai peristiwa tragis terjadi menimpa manusia. Aku tak pernah berharap satupun peritiwa buruk terjadi padaku dalam bulan ini, tapi horoskop selalu berkata berbeda, karena semesta selalu berjalan mengitari rentetan arus nasib. Baca selebihnya »

2 September 2009 Ditulis oleh benietzsche | Kisah Hidup | , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan